Matahari Terbenam diatas Pantai Anyer.

Desember 26, 2009

Anyer,12 Desember 2009 pukul 17.27, aku melangkahkan kaki mendekati suara deburan ombak, perlahan namun pasti. Sekejapan mata aku melihat jauh di ufuk barat matahari bersinar merah keemasan, pancarkan suasana melankolis. Saat itu aku teringat akan perbincangan dengan seorang rekan kerja tentang apa yang paling aku rindukan, spontan aku menjawab “Aku merindukan matahari terbenam!”. Lama aku terduduk dan pikiranku melayang…
Anyer,13 Desember 2009 pukul 00.27, sekali lagi aku terbius dengan suara mistis itu. Angin malam menerpa wajahku,dinginnya menusuk tubuhku yang hanya terbalut sehelai kaos tipis. Aku rentangkan kedua tanganku dan kutengadahkan wajahku ke kegelapan malam. Jauh disana seleret petir menyambar, seakan badai akan datang. Aku tertawa sinis, sudah ada badai dalam hatiku, jauh sebelum petir itu menyambar.
Tiba-tiba kurasakan angin hangat menyelimuti tubuh kedinginanku, seakan ada sosok gaib yang memelukku erat. Aku keheranan, kubiarkan diriku terhanyut dalam pelukannya. Dia menyandarkan kepalanya ke dadaku, wangi rambutnya, desah nafasnya ikut berirama senada degup jantungku yang meningkat. Kulingkarkan tanganku memeluknya dan aku berbisik hingga nafasku begitu dekat dengan telinganya “Percayalah, kau aman!”. Seketika itu ombak memecah pantai, dan sosok gaib itu lenyap dari sela-sela pelukanku. Aku terbangun dan tak lagi mampu memejamkan mata…
Anyer, 13 Desember 2009 pukul 07.17, aku kembali ketempatku bertemu dengan sosok gaib itu, perbatasan antara mimpi dan kenyataan. Aku mencari sebuah nomor dalam list ponselku dan aku menekan tombol kecil hijau, call, melintasi pulau dan lautan, terdengar suara dari ujung sana suara seorang wanita “maaf nomer yang anda hubungi tidak terdaftar…”
Aku berbalik, dan meninggalkan diriku tenggelam bersama matahari terbenam di atas pantai Anyer.

THE END.

Note diatas fiksi adanya, jika ada kesamaan cerita ya maaf. Maklum masi pemula.

nb: suka…suka…suka sama note ini, berasa membaca draft tulisan Marga T atau Mira W. Sekitar tahun 80-90an banyak banget novel yang gayanya begini ini ni. Tinggal dikembangkan aja, amin.


Puisi dari balik jeruji besi

November 21, 2009

==============================================
Hari ini hidup menuturkan kepadaku
Aku sudah disini…
Apapun yang terjadi,aku berjanji
Tidak akan mengeluh
Kenapa setelah sekian banyak kesenangan yang aku dapatkan…
Harus berakhir dengan rentetan keluhan

Aku sudah disini
Seharusnya aku bisa membangun pribadiku menjadi lebih baik setiap hari
Seharusnya aku memperbaiki diriku dulu baru memperbaiki orang lain
Kenapa aku harus mengeluhkan mereka
Kenapa aku harus sibuk mengeluhkan orang lain
Sementara urusanku sendiri belum selesai

Aku sudah disini
Aku ingin berhenti dari mengeluh
Seharusnya aku jadi inspirasi dan semangat dan bukan penghambat
Seharusnya aku bisa berbagi
Aku ingin lebih banyak memberi
Dan bukan meminta

Seharusnya aku belajar untuk menghargai dan bukannya minta dihargai
Aku sudah disini setelah melewati sekian waktu aku seharusnya sudah belajar untuk bersabar, bersabar menghadapi mereka dengan aneka sifat dan tabiat

Aku seharusnya sudah terdidik untuk membaur belajar menerima siapapun itu entah apa dan bagaimana keadaannya

Aku sudah disini…
Seharusnya aku menjadi guru dan bukan hakim
Bagaimana mau jadi hakim, sedang aku sendiri seorang terdakwa
Walaupun aku bukan seorang guru yang baik, setidaknya aku adalah murid yang patuh

Aku sudah disini…
Betapa aku merasa bersyukur,
Karena aku yakin bahwa mereka mencintai aku,
Seperti aku juga mencintai mereka

Aku masih disini…
Ketika hari yang akan aku lewati masih panjang
Aku ingin melewatinya dengan cinta dan semangat
Bukan dengan keluhan dan dalam perasaan terabaikan

Kristina Sriyanti
Alumni ESQ Peduli Lapas Angkatan II
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wanita Kebonsari Malang
Puisi ini dibaca saat penutupan Training Peduli Lapas di Lapas Kelas IIA Wanita Kebonsari Malang. 18 September 2007